Ada perasaan-perasaan tertentu yang datang tanpa bentuk yang jelas. Nggak sepenuhnya bisa dijelaskan, tapi juga terlalu terasa untuk diabaikan.
Biasanya, kita mencoba menerjemahkannya jadi kata-kata. Dipikirkan terlalu lama, disusun pelan-pelan, sampai akhirnya malah kehilangan momentumnya. Yang tadinya ingin disampaikan, justru berakhir disimpan. Padahal, nggak semua hal harus dijelaskan dengan cara seperti itu.
Kadang, hal yang paling terasa justru datang dari sesuatu yang lebih sederhana yang nggak berusaha terlalu keras untuk dimengerti, tapi tetap sampai.
Sunflower adalah salah satunya. Di balik tampilannya yang hangat dan familiar, ada cara lain yang sering luput disadari: jumlahnya bisa menjadi bahasa. Bukan sekadar estetika, tapi cara menyampaikan sesuatu tanpa harus mengatakannya secara langsung.
Satu tangkai, misalnya. Nggak membawa makna yang berat. Justru terasa ringan, hampir seperti kehadiran kecil yang muncul di waktu yang tepat. Ini bukan tentang perasaan besar, tapi tentang perhatian sederhana cara paling halus untuk bilang, “aku kepikiran kamu hari ini,” atau “semoga harimu sedikit lebih baik.” Dan sering kali, hal kecil seperti ini justru yang paling diingat.
Lalu tiga tangkai. Di sini, perasaan mulai terasa lebih jelas, tapi tetap disampaikan dengan cara yang tenang. Ada rasa sayang yang ingin diberikan, tanpa harus dibuat dramatis. Nggak menuntut, nggak mendesak, hanya hadir, dan cukup untuk dirasakan. Seperti sesuatu yang ingin kamu sampaikan, tapi nggak ingin merusak kenyamanannya.
Ketika jumlahnya menjadi lima, maknanya ikut bertambah dalam. Ini bukan lagi tentang apa yang baru dirasakan, tapi tentang apa yang sudah dijalani. Ada bentuk terima kasih yang mungkin selama ini belum sempat diucapkan untuk seseorang yang sudah bertahan, yang sudah ada, bahkan di saat-saat yang tidak selalu mudah. Lima sunflower terasa seperti acknowledgment yang akhirnya menemukan bentuknya.
Sembilan tangkai membawa arah yang berbeda.
Di sini, bukan hanya tentang masa lalu atau saat ini, tapi juga tentang masa depan. Ada harapan yang ikut diselipkan tentang sesuatu yang ingin dijaga, dipertahankan, dan tidak berhenti sampai di sini. Nggak perlu diucapkan keras-keras, tapi cukup jelas untuk dimengerti.
Dan ketika sampai di dua belas tangkai, semuanya terasa utuh. Nggak lagi samar, nggak lagi setengah-setengah. Ini adalah bentuk pilihan yang disadari sepenuhnya. I choose you, fully. Bukan karena kebetulan, bukan karena situasi tapi karena memang dipilih.
Menariknya, semua makna ini sebenarnya nggak pernah benar-benar tetap. Mereka selalu mengikuti cerita yang ada di baliknya. Siapa yang memberi, siapa yang menerima, dan apa yang sedang terjadi di antara keduanya. Sunflower menjadi medium cara yang lebih jujur untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin selama ini belum menemukan bentuknya.
Mungkin selama ini kita bukan kesulitan mengungkapkan. Kita hanya belum menemukan cara yang terasa cukup dekat. Dan kalau biasanya semua makna ini hadir dalam jumlah kecil satu, tiga, lima, atau dua belas bayangkan ketika semuanya berkumpul dalam satu waktu. Ketika setiap tangkai membawa cerita yang berbeda, dari orang yang berbeda, dengan alasan yang berbeda pula.
Bukan lagi satu pesan, tapi ratusan. Bahkan ribuan.
Di tanggal 18–19 April nanti, Baleton On the Go di Blok M, semua itu akan hadir dalam satu ruang lewat 1000 Sunflower Festival oleh Baleton. Sebuah pengalaman di mana sunflower tidak hanya dilihat sebagai bunga, tapi sebagai bahasa yang mungkin, akhirnya bisa membantu kamu menyampaikan sesuatu yang selama ini belum sempat kamu ucapkan.